Mimpi


Singapore 2011

Kota ini selalu tergesa gesa.. bunyi tanda penyebrangan seakan alarm peringatan akan datang nya tsunami yang aku dengar di berita kemarin.
Seorang wanita dengan setelan ala sekretaris menyandarkan kesadaran nya pada 2 tangan yang bergantung terombang ambing karena kecepatan laju MRT.
Ah.. berbeda sekali dengan Malang.. kota yang tenang, pagi yang dingin, ku ingat satu-satu nya yang membuatku berlari adalah mengejar capung dihalaman rumah ku.

Lamunanku buyar, belum juga kakiku menyentuh gedung perkantoran itu, setumpuk deadline sudah dikirim melalui gawai yang ada ditangan ku.

Dulu ibuku selalu bilang, pergi lah yang jauh.. kejar mimpi mu sampai ke negri orang..
Aku tidak pernah paham kata-kata itu sampai hari ini..
Apakah memang Ia ingin aku sukses atau hanya ingin aku pergi jauh.

Disini aku hampir tak mengenal kasih atau cinta atau apa sih sebutan nya sekarang?
Dulu waktu di Malang aku mengenal Bagas, dia selalu membelai rambut ku, memeluk ku, apalagi kalau rok ku terangkat sedikit, atau baju ku ngetat sedikit.
Lalu Bagas menghilang, kabar nya kawin lari dengan istri kades

Di kota ini, mereka tak peduli, bahkan untuk saling menyapa teman sebelah kubikel pun enggan.
Tapi aku lebih suka begini, tidak usah menyapaku, aku hanya ingin menambah pundi-pundi di rekening ku. 

Masuk ke tahun Ke 5 aku disini, seperti biasa sarapanku kupaksa cepat terkunyah, lidahku sudah cukup kebal oleh panasnya secangkir kopi milik coffee shop berlogo medusa.
Biarlah pikirku.. 

Akhirnya hari ini tiba.
Aku memesan kamar dan reservasi lunch di Marina Bay Sands, tempat ini sering dipamerkan teman-teman ibu ku yang dulu katanya sering kunjungan bisnis ketempat ini.

Biasanya hari senin semua terasa terburu-buru, tapi hari ini terasa lamban, ah sempurna.
Aku bangun pagi dan berenang di kolam berukuran olimpiade, di tempat yang jadi ikon negara ini, rasanya  ini senin ku yang teramat special.

Sebentar lagi waktu lunch.. aku sudah menyiapkan gaun Vera Wang berwarna merah, sepatu Louboutin berwarna khaki, dan tas tangan rotan pemberian ayah, katanya “ genggamlah selalu agar kau merasa bahagia”

Aku mereservasi meja khusus yang berada di ujung, di tempat yang berbentuk seperti perahu. Sudah ku amati sejak dulu, dan ini tempat yang pas.

Kupejamkan mataku, dan mulai merasakan mimpi...

Sepanjang sejarah negeri ini, hari senin yang tergesa-gesa berubah menjadi diam.
Diam dan tertuju pada..
Sekujur tubuh yang sudah tak berbentuk, terbaring di antara keriuhan kota, genangan darah disekitarnya  tersamarkan oleh gaun yang dia pakai.. sepatu nya hilang sebelah, dan tangan nya menggengam tas yang terbuat dari rotan.



-fa, somewhere between terminal 3 CGK-

Komentar

Postingan Populer