Pahlawan

Perlahan kepala Asrul memanggut- manggut seperti memahami penuh isi dari breaking news pagi ini. Warung kopi tempat pagi nya singgah ramai hari ini. Semua mata menatap serius isi berita dilayar buram satu-satu nya tv yang menjadi sumber hiburan disitu. 

Sesekali mata Asrul menerawang, seolah sedang membuat rencana besar untuk hidup nya. Hidup yang tergambar dari apa yang ia pakai hari ini, kaos lecek bergambar partai, celana bola kw yang ia curi dari jemuran saat melewati rumah warga.. compang camping, bau amis, gelap.

Hmmm.. berarti bisa jadi 20 tahun lagi gue jadi pahlawan, ga peduli gue pernah membunuh, pernah mengintipi waria atau mencuri uang di kotak amal. Nyata nya dia yang dulu pernah merampas tanah rakyat dan memperkaya keluarga selama 35 tahun pun bisa, yaa setidaknya itu info yang pernah gua baca di halaman majalah Time waktu itu benar. Itu yang ada dipikiran Asrul, senyum tipis di bibir hitam nya mengembang.

Asrul pemuda 20 tahun yang hidup dari satu trotoar ke trotoar lain, di usia yang seharusnya berada di bangku kuliah , dia memilih menjadi kurir narkoba, pencuri bahkan ikut meniduri pelacur.

Gue pantas menjadi pahlawan dalam hati nya, gue banyak membantu orang, bahkan si Sri yang hidupnya berantakan gue kasih proyek, sekarang udah enak hidupnya, dipake cukong.

Hari itu arti sebuah kata Pahlawan memudar, diantara Gedung gedung tinggi, di riuhnya diskusi para petinggi berdasi mewah bahkan dari celotehan supir metromini. Asrul mungkin jauh lebih pintar mengartikan nya.


Jakarta, 10 November 2025

Di hari Pahlawan, kata Pahlawan saja mulai asing ditelingaku.. 

gelar di obral seperti kue ape yang hampir basi karena tidak laku seharian.

Komentar

Postingan Populer